Tradisi
Ranah Minang yang melegenda, terjadi juga pada diriku. Bukan legenda anak
lelaki yang tak mendapatkan tempat di kampung halamannya. Bukan legenda anak
lelaki yang diusir kaum atas dosa dan kesalahan. Bukan legenda si Malin Kundang
yang menjadi cerita hidup di masa lalu. Tetapi realita kehidupan yang
mengharuskan tradisi dan filosofi dijalankan, MERANTAU.
Selembar
ijazah Sarjana aku bawa ke Jakarta… ingin merasakan hidup yang lebih layak. Aku
meninggalkan istri dan tiga putri yang masih belia. Pergi demi kehidupan dan
masa depan mereka. Aku hanya berharap di setiap tangis kerinduan yang ada di benakku,
ada kata “Amin” dari ketiga putriku. Semoga ada titik terang dalam perjalanan mencari
nafkah di ranah rantau.
Perjalanan
ini sungguh menyedihkan. Aku berjuang dengan keterbatasan, malu dengan
keadaan, menumpang dari satu tempat ke tempat lain sambil menunggu panggilan kerja,
dan satu hal yang membua aku tak henti menangis adalah teringat akan
anak-anakku. Teringat masa dimana aku menemani mereka bermain, teringat mereka memanggilku
dengan kata-kata “ayah”, teringat akan tangisnya di pagi hari, semua itu membuat
hatiku semakin tertekan.
hanya
keyakinan dan bayang-bayang ketiga putriku yang membuatku mampu untuk bertahan.
Terkadang aku berpikiran, ‘Aku adalah
sosok Ayah yang gagal untuk anak-anakku.'
![]() |
| Ricky Yupandi |
Tapi, setiap orang
mempunyai jalan hidup yang berbeda dengan yang lain. Jatuh bangun, sedih dan
susah, suka dan duka, kesuksesan dan kegagalan, merupakan sebuah garis tangan
yang harus dilalui oleh setiap orang.
Ricky Yupandi
Editor: Doni Romiza


