Minggu, 24 November 2013

Demi Masa Depan Keluargaku


Tradisi Ranah Minang yang melegenda, terjadi juga pada diriku. Bukan legenda anak lelaki yang tak mendapatkan tempat di kampung halamannya. Bukan legenda anak lelaki yang diusir kaum atas dosa dan kesalahan. Bukan legenda si Malin Kundang yang menjadi cerita hidup di masa lalu. Tetapi realita kehidupan yang mengharuskan tradisi dan filosofi dijalankan, MERANTAU.








Selembar ijazah Sarjana aku bawa ke Jakarta… ingin merasakan hidup yang lebih layak. Aku meninggalkan istri dan tiga putri yang masih belia. Pergi demi kehidupan dan masa depan mereka. Aku hanya berharap di setiap tangis kerinduan yang ada di benakku, ada kata “Amin” dari ketiga putriku. Semoga ada titik terang dalam perjalanan mencari nafkah di ranah rantau.


Perjalanan ini sungguh menyedihkan. Aku berjuang dengan keterbatasan, malu dengan keadaan, menumpang dari satu tempat ke tempat lain sambil menunggu panggilan kerja, dan satu hal yang membua aku tak henti menangis adalah teringat akan anak-anakku. Teringat masa dimana aku menemani mereka bermain, teringat mereka memanggilku dengan kata-kata “ayah”, teringat akan tangisnya di pagi hari, semua itu membuat hatiku semakin tertekan. 

hanya keyakinan dan bayang-bayang ketiga putriku yang membuatku mampu untuk bertahan. Terkadang aku berpikiran,  ‘Aku adalah sosok Ayah yang gagal untuk anak-anakku.'

Ricky Yupandi


Tapi, setiap orang mempunyai jalan hidup yang berbeda dengan yang lain. Jatuh bangun, sedih dan susah, suka dan duka, kesuksesan dan kegagalan, merupakan sebuah garis tangan yang harus dilalui oleh setiap orang.



Ricky Yupandi
Editor: Doni Romiza