Judul Buku :
Almamater Impian
Penulis :
Doni Romiza
ALMAMATER IMPIAN adalah buku Inpiratif yang dibumbui dengan
gendre komedi dan romantika. Berkisah tentang perjalan anak pelosok Negeri
Sumatera Barat, Yung Nando bercita-cita ingin menjadi seorang pelaut.
Sebelum terpilih menjadi seorang taruna pelayaran,
perdebatan terjadi di antara kedua orang tuanya. Sang Ayah menyarankan Yung
Nando untuk tetap belajar di Pasantren Buya Hamka. Dengan tujuan, kelak Yung
Nando bisa menjadi seorang ulama besar, dan menyandang gelar Datuk Parpatih Nan
Sabatang. Sementara Ibunya memberi masukan untuk memilih sekolah pelayaran,
agar suatu saat menjadi seorang angkatan laut.
Harap terbangkitkan batang terendam, harap nasib keluarga
bisa berubah, Yung Nando memantapkan diri memilih sekolah pelayaran. Tetapi
bukan untuk tujuan menjadi seorang angkatan laut, melainkan menjadi seorang
pelaut, yang bisa berlayar keluar negeri, mengumpulkan pundi-pundi uang untuk
keluarga.
Di sekolah pelayaran, bersusahpayah Yung Nando jalani
hari-hari melalui almamater yang dia kenakan. Semua asa yang diinginkan tak
semulus yang dia bayangkan. Perjuangan yang rumit, perjalanan bak menempuh
kerikil tajam. Banyak hadangan yang harus dia lalui sebelum sampai pada tujuan.
Sebagian teman-temannya, ada yang mundur sebelum waktunya. Hadangan itu tak
lain dan tak bukan adalah “tangan besi seniornya”.
Kejahilan, pemaksaan, kekerasan: tiga kata berbeda, tetapi
menanamkan satu tujuan dalam pelaksanaannya, yaitu jalan menuju tampuk
kekuasaan. Bukan senior namanya jika tak dikenal oleh juniornya. Bukan senior
namanya jika tak bisa tampil beda dengan yang lainnya. Tabiat senior yang
terbentuk bukanlah bawaan dari lahir, melainkan sikap dibuat-buat yang hanya
datang dari lingkungan asrama itu sendiri. Segala kemampuan senior pamerkan,
segala kekuatan senior perlihatkan. Tingkah seniornya menjadi-jadi. Kejahilan
berganti dengan pemaksaan. Pemaksaan pun berganti dengan kekerasan.
Cinta terpaksa, cinta iseng semata, cinta sebenar cinta,
kerap mewarnai cinta ala asrama. Jika pacaran berawal dengan keterpaksaan, maka
hubungan itu berlaku hanya di kawasan asrama saja. Di luar, ‘Up to youlah!’
Mereka tak keberatan jika pasangan mereka memiliki pacar lain di luar asrama.
Jika pacaran berawal dari keisengan semata, maka hubungan itu tidak pernah bertahan lama. Hubungan berakhir hari ini, esok sudah pasti ada penggantinya. Hal itu membuat pagar makan tanaman kerap terjadi. Dan siswi yang meninggalkan siswa ketiban malu, karena disebut sebagai “perempuan piala bergilir”.
Urusan hati, Yung Nando bukannya tak tertarik berlaku
seperti teman-teman yang lain. Hanya saja tak sepaham jika hubungan diawali
dengan terpaksa, apalagi sebatas iseng belaka. Baginya, cinta adalah pengabdian
rasa terhadap orang yang dicintai. Rasa yang membawa hikmah setiap kali
mengingat orang yang dicintai, hingga mampu memupuk lunglai jadi gelora.
Perasaan Yung Nando terhadap adik kelas, Marwah, bak sulapan
awan jadi pelangi. Karena rasa itu datang secara tiba-tiba, dan tak pernah
terpikirkan hadirnya di relung hati. Dia pun jadi petualang cinta sebenar
cinta.
Setelah mengenal Bapak Marwah, tiga minggu berturut-turut,
dia menghabis waktu liburan Minggu di rumah Marwah. Ada pribahasa mengatakan, ‘Jika
ingin petik buahnya, maka pagarilah dulu batangnya. Jika mau dekat dengan
anaknya, maka dekatilah dulu keluarganya.’
Namun segala upaya yang telah dia lakukan dengan tingkah dan
berprilaku terhadap marwah berakhir sia-sia. Hingga dia sadari, akan perasaan
Marwah yang tak pernah tertuju kepadanya. Sadar ketika cinta tak harus
memiliki, dia mengalah demi Marwah yang lebih memilih Yudha. Dia bertahan
dengan rasa yang dia pendami, agar tak bertukar dengan perasaan-perasaan
lainnya. Perasaan yang bisa membuat dia larut dalam kekalahan. Perasaan yang
memupuk cemburu Yudha jadi kebencian. Dan perasaan yang bisa saja merusak
persahabatan dia dengan Yudha.
Sampai di tangga senior paling atas (kelas 3) Yung nando
berkeinginan ada kedamaian di hati adik-adik kelasnya. Ingin senior menjalin
hubungan baik dengan junior, hubungan yang layak seperti kakak dan adik.
Seuntai lagu cinta (Kau Dia Dan Aku), yang dia ciptakan untuk Marwah, dia
nyanyikan bersama Marbun dan Romi di lorong asrama.
Saat jeda memainkan gitar, Marbun dan Romi selalu mengeluhkan kerasanya asrama. Namun kisah tragedi kematian Senior masa lalu bernama Fatur, mampu menginspirasi Marbun dan Romi untuk tetap bersabar dan bertahan.
Saat jeda memainkan gitar, Marbun dan Romi selalu mengeluhkan kerasanya asrama. Namun kisah tragedi kematian Senior masa lalu bernama Fatur, mampu menginspirasi Marbun dan Romi untuk tetap bersabar dan bertahan.
Pada akhirnya doa Ibu mengantarkan Yung Nando berlayar ke
Negeri Sakura, dan bertemu perempuan cantik bernama Haruka. Sosok Haruka mampu
melupakan keinginan hatinya untuk mendapatkan cinta Marwah, yang telah menikah
dengan Yudha. Tapi perjalanan cintanya diwarnai rasa dilema, orang tua tidak
menyetujui kehadiran Haruka, dikarenakan pertikaian adat dan tradisi yang
terlalu jauh. Hingga terjadi perjodohan yang tak diharapkan.
Ekonomi yang pasang surut, perjodohan berakhir dengan perpisahan. Orang-orang hanya menjadikan dirinya seumpama tanaman sawit, yang
dipupuk dan dipelihara sedari kecil. Bila berbuah, dipetik dan dinikmati semua
hasilnya. Tapi Jika tidak, batang sawit akan di tebang, dibuang, dan diganti
dengan tanaman lain.