Senin, 27 Oktober 2014

Sinopsis Almamater Impian

Judul Buku          : Almamater Impian

Penulis                 : Doni Romiza                     


ALMAMATER IMPIAN adalah buku Inpiratif yang dibumbui dengan gendre komedi dan romantika. Berkisah tentang perjalan anak pelosok Negeri Sumatera Barat, Yung Nando bercita-cita ingin menjadi seorang pelaut.

Sebelum terpilih menjadi seorang taruna pelayaran, perdebatan terjadi di antara kedua orang tuanya. Sang Ayah menyarankan Yung Nando untuk tetap belajar di Pasantren Buya Hamka. Dengan tujuan, kelak Yung Nando bisa menjadi seorang ulama besar, dan menyandang gelar Datuk Parpatih Nan Sabatang. Sementara Ibunya memberi masukan untuk memilih sekolah pelayaran, agar suatu saat menjadi seorang angkatan laut.

Harap terbangkitkan batang terendam, harap nasib keluarga bisa berubah, Yung Nando memantapkan diri memilih sekolah pelayaran. Tetapi bukan untuk tujuan menjadi seorang angkatan laut, melainkan menjadi seorang pelaut, yang bisa berlayar keluar negeri, mengumpulkan pundi-pundi uang untuk keluarga.

Di sekolah pelayaran, bersusahpayah Yung Nando jalani hari-hari melalui almamater yang dia kenakan. Semua asa yang diinginkan tak semulus yang dia bayangkan. Perjuangan yang rumit, perjalanan bak menempuh kerikil tajam. Banyak hadangan yang harus dia lalui sebelum sampai pada tujuan. Sebagian teman-temannya, ada yang mundur sebelum waktunya. Hadangan itu tak lain dan tak bukan adalah “tangan besi seniornya”.

Kejahilan, pemaksaan, kekerasan: tiga kata berbeda, tetapi menanamkan satu tujuan dalam pelaksanaannya, yaitu jalan menuju tampuk kekuasaan. Bukan senior namanya jika tak dikenal oleh juniornya. Bukan senior namanya jika tak bisa tampil beda dengan yang lainnya. Tabiat senior yang terbentuk bukanlah bawaan dari lahir, melainkan sikap dibuat-buat yang hanya datang dari lingkungan asrama itu sendiri. Segala kemampuan senior pamerkan, segala kekuatan senior perlihatkan. Tingkah seniornya menjadi-jadi. Kejahilan berganti dengan pemaksaan. Pemaksaan pun berganti dengan kekerasan. 

Cinta terpaksa, cinta iseng semata, cinta sebenar cinta, kerap mewarnai cinta ala asrama. Jika pacaran berawal dengan keterpaksaan, maka hubungan itu berlaku hanya di kawasan asrama saja. Di luar, ‘Up to youlah!’ Mereka tak keberatan jika pasangan mereka memiliki pacar lain di luar asrama.

Jika pacaran berawal dari keisengan semata, maka hubungan itu tidak pernah bertahan lama. Hubungan berakhir hari ini, esok sudah pasti ada penggantinya. Hal itu membuat pagar makan tanaman kerap terjadi. Dan siswi yang meninggalkan siswa ketiban malu, karena disebut sebagai “perempuan piala bergilir”.

Urusan hati, Yung Nando bukannya tak tertarik berlaku seperti teman-teman yang lain. Hanya saja tak sepaham jika hubungan diawali dengan terpaksa, apalagi sebatas iseng belaka. Baginya, cinta adalah pengabdian rasa terhadap orang yang dicintai. Rasa yang membawa hikmah setiap kali mengingat orang yang dicintai, hingga mampu memupuk lunglai jadi gelora.

Perasaan Yung Nando terhadap adik kelas, Marwah, bak sulapan awan jadi pelangi. Karena rasa itu datang secara tiba-tiba, dan tak pernah terpikirkan hadirnya di relung hati. Dia pun jadi petualang cinta sebenar cinta.

Setelah mengenal Bapak Marwah, tiga minggu berturut-turut, dia menghabis waktu liburan Minggu di rumah Marwah. Ada pribahasa mengatakan, ‘Jika ingin petik buahnya, maka pagarilah dulu batangnya. Jika mau dekat dengan anaknya, maka dekatilah dulu keluarganya.’

Namun segala upaya yang telah dia lakukan dengan tingkah dan berprilaku terhadap marwah berakhir sia-sia. Hingga dia sadari, akan perasaan Marwah yang tak pernah tertuju kepadanya. Sadar ketika cinta tak harus memiliki, dia mengalah demi Marwah yang lebih memilih Yudha. Dia bertahan dengan rasa yang dia pendami, agar tak bertukar dengan perasaan-perasaan lainnya. Perasaan yang bisa membuat dia larut dalam kekalahan. Perasaan yang memupuk cemburu Yudha jadi kebencian. Dan perasaan yang bisa saja merusak persahabatan dia dengan Yudha.

Sampai di tangga senior paling atas (kelas 3) Yung nando berkeinginan ada kedamaian di hati adik-adik kelasnya. Ingin senior menjalin hubungan baik dengan junior, hubungan yang layak seperti kakak dan adik. Seuntai lagu cinta (Kau Dia Dan Aku), yang dia ciptakan untuk Marwah, dia nyanyikan bersama Marbun dan Romi di lorong asrama.

Saat jeda memainkan gitar, Marbun dan Romi selalu mengeluhkan kerasanya asrama. Namun kisah tragedi kematian Senior masa lalu bernama Fatur, mampu menginspirasi Marbun dan Romi untuk tetap bersabar dan bertahan.

Pada akhirnya doa Ibu mengantarkan Yung Nando berlayar ke Negeri Sakura, dan bertemu perempuan cantik bernama Haruka. Sosok Haruka mampu melupakan keinginan hatinya untuk mendapatkan cinta Marwah, yang telah menikah dengan Yudha. Tapi perjalanan cintanya diwarnai rasa dilema, orang tua tidak menyetujui kehadiran Haruka, dikarenakan pertikaian adat dan tradisi yang terlalu jauh. Hingga terjadi perjodohan yang tak diharapkan.

Ekonomi yang pasang surut, perjodohan berakhir dengan perpisahan. Orang-orang hanya menjadikan dirinya seumpama tanaman sawit, yang dipupuk dan dipelihara sedari kecil. Bila berbuah, dipetik dan dinikmati semua hasilnya. Tapi Jika tidak, batang sawit akan di tebang, dibuang, dan diganti dengan tanaman lain.