Minggu, 22 Februari 2015

Bungo Galamai

Tujuh tahun mengabdikan hati untuk satu cinta, tak mudah bagiku menerima kenyataan jika harus berakhir sia-sia. Tujuh tahun lamanya aku menanti untuk bisa mempersuntingmu, tapi di tahun ketujuh itu engkau katakan, ‘sebaiknya hubungan kita diakhiri saja.’ Padahal aku belum menyerah  demi impianmu. salahkah jika aku bertanya, 'Terbuat dari apakah hatimu, wahai Bungo Galamai?'



Ingatkah engkau di tahun pertama pertemuan kita, Engkau duduk di depanku saat mengajar Bahasa Jepang di Universitas Andalas. Darahku berdesir deras. Jantungku seakan berdenyut kencang. Jemariku seakan menari-nari.

Bungo Galamai… kau gadis ayu di balik mukenah putih, wajah riang dihiasi sajjadah panjang, menghantui hari-hariku di malam sepi. Tak henti mengiang ke benakku saat aku terbangun.

Satu bulan lamanya kita bersahabat. Pada akhirnya kita mengikat janji untuk cinta. Ragaku mulai sidikit hidup. Gundah gulanaku seakan tersapu bersih. Hari-hariku dihinggapi berjuta rasa. Bagai gelora pelangi di langit tinggi. Engkau datang memberiku kehidupan baru, dengan cinta dan harapan.

Dengan wajah teduh engkau bertutur, 'Mama Papa lagi di Mekkah. Aku titip doa untuk Mama Papa, agar dipertemukan jodoh yang mengerti dengan aku. Aku yakin, Udalah orangnya.’

Itulah harapan pertama engkau saat aku bertamu ke rumahmu.
Hampir setiap hari kita bertemu muka. Kau minta aku menjadi imam di setiap sholat berjamaah kita. Tak pernah kusentuh jari tanganmu ketika bersalaman. Tak kuinginkan air keruh sebelum kuminum, terbesit di hati untuk tidak menyentuhmu sebelum waktunya. Betapa kuinginkan engkau untuk tetap dalam kesucian, agar kelak menjadi pendamping hidup yang amanah.

Di tahun pertama itu aku mengenal orang tuamu..... 
.......
.......
.......

Tahun kedua…..

#Naskah: Di Manakah Ranahku?#