Tujuh tahun
mengabdikan hati untuk satu cinta, tak mudah bagiku menerima kenyataan jika
harus berakhir sia-sia. Tujuh tahun lamanya aku menanti untuk bisa
mempersuntingmu, tapi di tahun ketujuh itu engkau katakan, ‘sebaiknya hubungan
kita diakhiri saja.’ Padahal aku belum menyerah demi impianmu. salahkah jika aku bertanya, 'Terbuat dari apakah hatimu, wahai Bungo Galamai?'
Ingatkah engkau di tahun pertama pertemuan kita, Engkau duduk di depanku saat mengajar Bahasa Jepang di Universitas Andalas. Darahku berdesir
deras. Jantungku seakan berdenyut kencang. Jemariku seakan menari-nari.
Bungo Galamai… kau gadis ayu di balik mukenah putih, wajah riang dihiasi sajjadah panjang, menghantui hari-hariku di malam sepi. Tak henti mengiang ke benakku saat aku terbangun.
Bungo Galamai… kau gadis ayu di balik mukenah putih, wajah riang dihiasi sajjadah panjang, menghantui hari-hariku di malam sepi. Tak henti mengiang ke benakku saat aku terbangun.
Satu
bulan lamanya kita bersahabat. Pada akhirnya kita mengikat
janji untuk cinta. Ragaku mulai sidikit hidup. Gundah gulanaku
seakan tersapu bersih. Hari-hariku dihinggapi berjuta rasa. Bagai gelora pelangi di langit tinggi. Engkau datang memberiku
kehidupan baru, dengan cinta dan harapan.
Dengan wajah teduh engkau bertutur, 'Mama
Papa lagi di Mekkah. Aku titip doa untuk Mama Papa, agar dipertemukan jodoh
yang mengerti dengan aku. Aku yakin, Udalah orangnya.’
Itulah
harapan pertama engkau saat aku bertamu ke rumahmu.
Hampir setiap hari kita bertemu muka. Kau minta aku menjadi imam di setiap sholat berjamaah kita. Tak pernah kusentuh jari tanganmu ketika bersalaman. Tak kuinginkan air keruh sebelum kuminum, terbesit di hati untuk tidak menyentuhmu sebelum waktunya. Betapa kuinginkan engkau untuk tetap dalam kesucian, agar kelak menjadi pendamping hidup yang amanah.
Di tahun pertama itu aku mengenal orang tuamu.....
.......
.......
.......
Hampir setiap hari kita bertemu muka. Kau minta aku menjadi imam di setiap sholat berjamaah kita. Tak pernah kusentuh jari tanganmu ketika bersalaman. Tak kuinginkan air keruh sebelum kuminum, terbesit di hati untuk tidak menyentuhmu sebelum waktunya. Betapa kuinginkan engkau untuk tetap dalam kesucian, agar kelak menjadi pendamping hidup yang amanah.
Di tahun pertama itu aku mengenal orang tuamu.....
.......
.......
.......
Tahun kedua…..
#Naskah:
Di Manakah Ranahku?#