Selamat siang, ciptaan Tuhan yang sempurna.
Perkenalkan
namaku Bino. Nama yang sederhana. Tetapi gak perlu dibesar-besarkan, meski aku
lahir dan besar di Kota Metropolitan. Aku hanya mau berbagi kisah pada kalian
tentang hidupku yang penuh pilu, sedih, menderita terlunta-lunta hidup di kota
besar.
Aku gak tau
Bapakku siapa. Yang aku tau, aku dibesarkan oleh Ibu yang sangat sayang sama
aku. Saudara kembarku ada empat. Aku lupa nama saudara-saudara kembarku. Abis
waktu kami lahir, Ibu gak pernah mengurus akta kelahiran kami ke Kantor
Kelurahan.
Aku tinggal
di pinggir rel kereta api Grogol. Karena gak ada Bapak yang membesarkan kami,
terpaksa Ibu yang banting tulang mencari makan buat hidup kami. Ibu sering
mengajak kami meminta-minta makan ke warung-warung nasi, dari Warteg hingga
rumah makan Padang, menunggu ada orang yang mau berbaik hati memberi kami sisa
makanannya.
Banyak
orang-orang merasa kasihan terhadap kami. Tapi gak sedikit juga yang mengusir
kami dari rumah makan, menendang kami ke pinggir jalan, hingga kami berpindah
lagi ke rumah makan yang lainnya. Jika ada orang berbaik hati memberi kami
sisa makanannya, kami melahapnya rame-rame. Dapat makan atau gak, sore hari
kami kembali pulang ke pinggir rel kereta api.
Gak ada
kenyamanan tinggal di kota besar seperti Jakarta. Terkadang Ibu merasa letih
menyusui kami berlima. Sementara Ibu kesusahan mencari makan dan air untuk
hidup kami.
Aku sangat
bangga sama Ibu. Meski kesusahan mencari makan untuk kami, Ibu masih kuat dengan
imannya. Ibu gak pernah melacur ke sana-sini. Aku lihat banyak orang-orang jadi pelacur di Jakarta, dengan alasan susah mencari makan. Bagiku “meminta-minta”
lebih mulia daripada jadi seorang
"pelacur”.
‘Bener, gak?
Bener dooong!’
Sampai aku
berumur dua bulan, hampir gak ada perubahan pada nasib kami. Kami tetap
terlunta-lunta hidup di Jakarta. Jika boleh memilih, aku gak ingin hidup di
kota itu.
Aku mau
nangis melanjutkan tulisan ini, tapi mau gimana lagi, kalian ciptaan Tuhan yang
sempurna mesti tau kisahku ini.
Aku mau
tanya, ‘Apa yang kalian rasakan jika terpisah dengan saudara kalian pada umur
dua bulan? Apa yang kalian rasakan jika terpisah dari Ibu kalian di umur
segitu?’
Musim banjir
2013, adalah hari yang paling menyedihkan buat aku. Aku dan empat saudara
kembarku tidur-tiduran di pelukan Ibu. Tiba-tiba banjir besar
memporak-porandakan tempat istirahat kami.
Aku terpisah
dari Ibu, aku kehilangan saudar-saudara kembarku. Aku dibawa arus air ke tong
sampah. Di tong sampah itu aku menangis sejadi-jadinnya. Tetapi orang-orang
hanya melihat saja. Mereka gak mau membantuku. Dua hari dua malem aku tidur di
sana, makan pun di sana dari sisa makan buangan orang-orang. Aku sudah pasrah
dengan keadaan. Ingat Ibu ada di mana? Ingat saudara-saudaraku ada di mana? Apa
mereka masih hidup? Entahlah
Ketika sore
tiba, seorang wanita dan pria menghampiriku. Pria itu menggendongku menuju
kontrakannya. Aku dimandiin dalam kedinginan. Aku diberi selimut tebal. Dan
mereka memberiku semangkuk nasi dan ikan rebus. Aku bener-bener berterima kasih
kepada mereka. Tapi aku gak tau bagaimana caranya berterima kasih.
Si pria itu
memanggil si wanita dengan sebutan “Uni Uci”, si Uni Uci memanggil pria itu
“Uda Doni”. Ternyata oh ternyata mereka Uda Uni.
Malem-malem
aku tidur kedinginan di kontrakan Uda Doni. Gak tau kenapa, kok bisa sedingin
itu? Padahal di luar kontrakan Uda Doni gak dingin-dingin banget. Paginya Uni
Uci dateng ke kontrakan Uda Doni. Uni Uci memanggil aku “Bino”. Sejak itu,
jadilah namaku Bino. Bagiku apalah artinya sebuah nama? Yang penting bisa makan
enak.
‘Bener, gak?
Bener dooong!’
Baru lima
menit Uni Uci dateng, mereka berdua pergi entah ke mana? Aku ditinggal
sendirian di kontrakan. Aku jadi kesepian. Eh, pas pulang mereka bawa makanan
bulet-bulet gitu. Aku gak tau nama makanannya apa? Aku gak bisa baca. Yang
penting bisa makan enak.
‘Bener, gak?
Bener dooong!’
Aku kira
cuma saat itu aja merasa kesepian. gak taunya tiap hari Uda Doni pergi
ninggalin aku. Katanya sih, pergi kerja. Aku gak tau dia kerja di mana? Aku
lihat di facebooknya dia kayak kerja kantoran gitu. Menjelang berangkat kerja,
Uda Doni selalu cipika-cipiki sama aku. Dia sangat sayang sama aku. Anehnya,
aku dibeliin kalung warna ping. Aku kan jantan, masa dikasih kalung warna ping?
‘Gak banget,
deh! aku jadi malu sama kucing-kucing jalanan.’
'Upp, aku
juga pernah hidup di jalan, ya? Sorrry.'
Waktu Uda
Doni buru-buru pergi ke kantor, dia lupa naruh pasir tempat buang beolku.
Siang-siang aku mau beol bingung mau buang ke mana? Ya… aku keluairin aja di
tempat tidur dia.
Pulang kerja
Uda Doni marah-marahin aku, ‘Kenapa beol di kasur? Apa gak ada tempat lain?’
Aku bingung mau jawab apa? Aku kan gak bisa ngomong.
Aku minta
maaf sama Uda Doni. Aku deketin dia lagi main leptop di depan tipi. Aku
tidur-tiduran di leptop dia. Aku dilihatin gambar burung-burung terbang. Lalu
aku jilatin pipi Uda Doni. Dia gak tau, tadinya abis beol aku jilatin pantatku
pakai lidah, ‘Hi hi hi’ makanya jangan marah-marah terus. Yang salahkan dia, kenapa
aku yang dimarahin?
Memasuki
umur empat bulan, aku selalu sendirian di kontrakan Uda Doni. Tiap pagi dia
pergi kerja, pulangnya selalu malem-malem. Tiap pulang kerja, aku
digendong-gendong ke atas kepalanya, terus berdiri di depan kaca. Aku jadi kaget…
ada kucing lain mirip aku di dalam kaca. Aku cakar kucing itu, Uda Doni malah
ketawa. Dia bilang, ‘Itu bukan kucing lain, Bino… itu kamu. Iya.. kamu’
Dasar Uda
Doni bego. Udah jelas-jelas aku lihat sendiri ada kucing lain mirip aku.
Nah, hari
minggu sore aku senang sekali. Paginya Uda Doni bilang mau jemput Uni Uci ke
kosnya Uni Uci. Terus pergi jalan-jalan ke mall. Aku disuruh jagain kontrakan.
Uda Doni janji mau kasih hadiah buat aku. Ternyata benar... sewaktu balik ke
kontrakan, Uda Doni dan Uni Uci bawa kardus indomi. Aku kira mereka mau tuker
makananku dengan indomi. Aku kan gak makan indomi. Waktu aku cium-cium kardus
indominya, tiba-tiba loncat mahkluk aneh berwarna putih. Rupanya makhluk aneh
itu kucing juga. Kucing itu bulunya panjang, ekornya montok, keren gitu, deeh.
Uda Doni
bilang, ‘Nah, sekarang kamu ada teman, Bino. Namanya Bule.’
Aku senang
sih, senang. Tapi Uni Uci itu, lho… suka banding-bandingin aku sama si Bule.
Dia bilang, ‘Si Bule lebih cakep, ekornya panjang, gak kayak si Bino punya ekor
cuma dua senti.’
“Sakiiiiitnya
tu di sini di dalam hatiku”. Lah, kenapa jadi lagu Cita Citata, ya? Mang.. tu
orang jadi artis terkenal juga, ya? Syukur, deh, kalau gitu!
Sekarang aku
gak kesepian lagi. Karena ada Bule nemanin aku waktu Uda Doni pergi kerja. Si
Bule sih cakep iya, tapi agak songong dikit. Aku tidur tengkurap, si bule
songong itu suka tidur ngangkang seenaknya.
‘HALLOOWH..
gak sopan, deh. Aku kan senior di kontrakan Uda Doni’
Udah dulu
ya, ciptaan Tuhan yang sempurna. Nanti aku lanjutin lagi cerita tentang pacarku
si Mona. Aku udah punya pacar, lho. Aku kan udah gede. Meski aku kucing
pribumi, aku gak kalah hebat dapetin pacar dibandingin si Bule itu. Si Mona
lebih senang sama aku. Aku udah bobok berduaan sama si Mona. Tapi Uda Doni sama
si Bule, gitu-gitu aja. Ihik ihik ihik kasian.
Aku tutup
dulu komputernya, ya. aku mau bobok siang. Bentar lagi Uda Doni pulang keja.
Nanti dia marah-marah komputernya aku acak-acak.
Da da da da
Salam dari:
Bino Bin Bapak Gak Jelas.