![]() |
| (beny A) |
Jikalau kita tidak
pernah memiliki musim dingin, maka musim semi tidaklah akan terasa begitu
menyenangkan; jikalau kita kadang-kadang tidak melalui kesulitan demi
kesulitan, maka kelancaran tidak akan terlalu diharapkan.”Demikian lebih kurang
terjemahan kutipan kata-kata bermakna diatas.
Hidup di dunia pun begitu
adanya.Apabila kita tak pernah melewati kehidupan yang penuh lika liku didunia
ini, maka kita mungkin tak akan pernah benar-benar menikmati hidup ini.
Seandainya kita tak
pernah mengenal apa itu penderitaan dalam hidup ini, maka kita tak akan pernah
menyadari betapa indah dan berarti sebuah kebahagiaan. Justru lika liku hidup
di dunia yang penuh warna akan semakin memperindah kehidupan kita.
Hidup di dunia ada
pasang surutnya. Kadang di atas kadang di bawah. Kadang mendapatkan kadang pula
harus kehilangan. Pasang surut kehidupan adalah sebuah kenyataan. Juga adalah
sebuah keindahan. Kita umpamakan saja ombak di laut. Bukankah ombaknya tidak
hanya naik terus melainkan ada turunnya juga? Jikalau ombaknya hanya naik saja
tentu kelihatannya tidak akan begitu indah dan lengkap.
Justru ketika kita
mengamati ombak yang naik turun dan air yang pasang surut, maka kita baru akan
menemukan betapa indahnya ombak itu dan betapa menakjubkan pasang surut itu.
Demikian pula kehidupan kita di dunia ini. Selalu ada naik turunnya. Ada
kelancaran dan ketidaklancaran. Ada keberuntungan dan kesialan.
Ada keberlimpahan
dan kekurangan Ada masa-masa bahagia dan ada saat-saat tragis. Ada masa-masa
indah dan ada masa-masa sulit. Semua silih berganti bagaikan roda pedati yang
berputar. Inilah dualisme dunia ini. Sayangnya manusia awam seperti kita belum
betul-betul menyadari keindahan di balik lika-liku hidup yang penuh dualisme.
Hidup di dunia yang
penuh dualis dan lika-liku membuat kita manusia kadang tertawa dan kadang
menangis. Ketika berada di dalam kelancaran dan keberlimpahan, hidup terasa
begitu bahagia dan menyenangkan. Sebaliknya ketika berada di dalam musibah dan
kekurangan, rasanya hidup begitu berat dan menakutkan.
Pandangan awam kita
selama ini adalah selalu mengharapkan yang baik-baik saja sementara yang buruk
atau yang tidak lancar ditolak dan dihindari. Jikalau lagi sial dan apes maka
mulut kita terus berkomat kamit mengharapkan datangnya kebaikan atau
keberuntungan, dan yang buruk-buruk biarlah segera pergi saja. Bukankah kita
selalu begitu, tak pernah menginginkan ketidak-lancaran melainkan terus
berharap selalu berada di dalam kelancaran? Padahal kita tak pernah menyadari
bahwa terkadang didalam ketidaklancaranpun sebetulnya kita memiliki banyak
kesempatan untuk menemukan arti hidup ini, sekaligus menikmati keindahan hidup
yang penuh warna ini.
Tidak ada
kebahagiaan tanpa penderitaan. Tak ada sebuah keberhasilan yang bisa diraih
tanpa pernah melewati kegagalan demi kegagalan. Tidak ada kelancaran tanpa
hambatan atau rintangan. Bagaimanapun setipa orang haruslah melewati satu babak
kegetiran atau penderitaan di dalam hidupnya terlebih dahulu,sebelum akhirnya
ia bisa menikmati dan menghargai satu babak kebahagiaan di dalam hidupnya.Sama
seperti sebuah film yang kita tonton.Sebelum memasuki sebuah “happy ending”,
selalu saja tokoh didalam film tersebut harus melewati babak demi babak
kecemasan, kegelisahan bahkan penderitaan lahir batin yang melelahkan barulah
kemudian menemukan kebahagiaan pada akhirnya. Begitupun hidup kita di
dunia.Tanpa pernah mencicipi pahitnya penderitaan kita tak akan pernah
benar-benar menikmati manisnya sebuah kebahagiaan. Jikalau kita tak pernah memakan
pil pahit kehidupan maka kita tak mungkin mampu merasakan manisnya buah
kehidupan. Kita tak akan pernah menyadari betapa indahnya warna kehidupan.
Tak ada kebahagiaan
yang bisa dikecap tanpa pernah melewati sebuah penderitaan.Tak ada ilmuwan yang
yang sekali melakukan eksperimen langsung bisa menemukan sebuah temuan yang
menggemparkan dunia.Bahkan seorang Thomas Alva Edison saja harus melewati
kegagalan lebih dari seribu kali sebelum akhirnya menjadi seorang penemu lampu
pijar. Kalau tak ada pengorbanan mana ada hasil yang bisa didapatkan? Sama
seperti bermain catur. Jikalau tidak mengorbankan pion, kuda, benteng, menteri
dan lainnya mana mungkin bisa menyelamatkan sang raja sekaligus memenangkan
sebuah permainan?
Tanpa pernah
mencicipi asam garam kehidupan dan pahit manisnya hidup ini maka kita tak akan
pernah tumbuh dewasa dan berkembang. Justru dibalik setiap penderitaan yang
datang, sudah menunggu sebuah kebahagiaan. Setelah melewati kegagalan demi
kegagalan, maka keberhasilan sudah tampak di depan mata. Inilah indahnya
lika-liku kehidupan!
Kalau di sekolah
kita mendapatkan pelajaran baru kemudian menghadapi ujian, maka di dalam
kehidupan kita akan menemui ujian-ujian baru kemudian kita akan mendapatkan
pelajaran.Semakin banyak kita menerima ujian maka kita akan semakin banyak
belajar. Inilah hikmah dari lika-liku kehidupan yang penuh warna. Dibalik
setiap penderitaan kesakitan atau ketidaklancaran dalam bentuk apapun, selalu
ada hikmah yang tersembunyi dibaliknya. Segetir dan seburuk apapun yang menimpa
kita selalu ada anugerah terindah yang terselubung dibalik itu.
