Jumat, 29 Maret 2013

Hikmah terindah yang tersembunyi


(beny A)

Jikalau kita tidak pernah memiliki musim dingin, maka musim semi tidaklah akan terasa begitu menyenangkan; jikalau kita kadang-kadang tidak melalui kesulitan demi kesulitan, maka kelancaran tidak akan terlalu diharapkan.”Demikian lebih kurang terjemahan kutipan kata-kata bermakna diatas.

Hidup di dunia pun begitu adanya.Apabila kita tak pernah melewati kehidupan yang penuh lika liku didunia ini, maka kita mungkin tak akan pernah benar-benar menikmati hidup ini.

Seandainya kita tak pernah mengenal apa itu penderitaan dalam hidup ini, maka kita tak akan pernah menyadari betapa indah dan berarti sebuah kebahagiaan. Justru lika liku hidup di dunia yang penuh warna akan semakin memperindah kehidupan kita. 

Hidup di dunia ada pasang surutnya. Kadang di atas kadang di bawah. Kadang mendapatkan kadang pula harus kehilangan. Pasang surut kehidupan adalah sebuah kenyataan. Juga adalah sebuah keindahan. Kita umpamakan saja ombak di laut. Bukankah ombaknya tidak hanya naik terus melainkan ada turunnya juga? Jikalau ombaknya hanya naik saja tentu kelihatannya tidak akan begitu indah dan lengkap.

Justru ketika kita mengamati ombak yang naik turun dan air yang pasang surut, maka kita baru akan menemukan betapa indahnya ombak itu dan betapa menakjubkan pasang surut itu. Demikian pula kehidupan kita di dunia ini. Selalu ada naik turunnya. Ada kelancaran dan ketidaklancaran. Ada keberuntungan dan kesialan.

Ada keberlimpahan dan kekurangan Ada masa-masa bahagia dan ada saat-saat tragis. Ada masa-masa indah dan ada masa-masa sulit. Semua silih berganti bagaikan roda pedati yang berputar. Inilah dualisme dunia ini. Sayangnya manusia awam seperti kita belum betul-betul menyadari keindahan di balik lika-liku hidup yang penuh dualisme.
Hidup di dunia yang penuh dualis dan lika-liku membuat kita manusia kadang tertawa dan kadang menangis. Ketika berada di dalam kelancaran dan keberlimpahan, hidup terasa begitu bahagia dan menyenangkan. Sebaliknya ketika berada di dalam musibah dan kekurangan, rasanya hidup begitu berat dan menakutkan.

Pandangan awam kita selama ini adalah selalu mengharapkan yang baik-baik saja sementara yang buruk atau yang tidak lancar ditolak dan dihindari. Jikalau lagi sial dan apes maka mulut kita terus berkomat kamit mengharapkan datangnya kebaikan atau keberuntungan, dan yang buruk-buruk biarlah segera pergi saja. Bukankah kita selalu begitu, tak pernah menginginkan ketidak-lancaran melainkan terus berharap selalu berada di dalam kelancaran? Padahal kita tak pernah menyadari bahwa terkadang didalam ketidaklancaranpun sebetulnya kita memiliki banyak kesempatan untuk menemukan arti hidup ini, sekaligus menikmati keindahan hidup yang penuh warna ini. 

Tidak ada kebahagiaan tanpa penderitaan. Tak ada sebuah keberhasilan yang bisa diraih tanpa pernah melewati kegagalan demi kegagalan. Tidak ada kelancaran tanpa hambatan atau rintangan. Bagaimanapun setipa orang haruslah melewati satu babak kegetiran atau penderitaan di dalam hidupnya terlebih dahulu,sebelum akhirnya ia bisa menikmati dan menghargai satu babak kebahagiaan di dalam hidupnya.Sama seperti sebuah film yang kita tonton.Sebelum memasuki sebuah “happy ending”, selalu saja tokoh didalam film tersebut harus melewati babak demi babak kecemasan, kegelisahan bahkan penderitaan lahir batin yang melelahkan barulah kemudian menemukan kebahagiaan pada akhirnya. Begitupun hidup kita di dunia.Tanpa pernah mencicipi pahitnya penderitaan kita tak akan pernah benar-benar menikmati manisnya sebuah kebahagiaan. Jikalau kita tak pernah memakan pil pahit kehidupan maka kita tak mungkin mampu merasakan manisnya buah kehidupan. Kita tak akan pernah menyadari betapa indahnya warna kehidupan. 

Tak ada kebahagiaan yang bisa dikecap tanpa pernah melewati sebuah penderitaan.Tak ada ilmuwan yang yang sekali melakukan eksperimen langsung bisa menemukan sebuah temuan yang menggemparkan dunia.Bahkan seorang Thomas Alva Edison saja harus melewati kegagalan lebih dari seribu kali sebelum akhirnya menjadi seorang penemu lampu pijar. Kalau tak ada pengorbanan mana ada hasil yang bisa didapatkan? Sama seperti bermain catur. Jikalau tidak mengorbankan pion, kuda, benteng, menteri dan lainnya mana mungkin bisa menyelamatkan sang raja sekaligus memenangkan sebuah permainan?

Tanpa pernah mencicipi asam garam kehidupan dan pahit manisnya hidup ini maka kita tak akan pernah tumbuh dewasa dan berkembang. Justru dibalik setiap penderitaan yang datang, sudah menunggu sebuah kebahagiaan. Setelah melewati kegagalan demi kegagalan, maka keberhasilan sudah tampak di depan mata. Inilah indahnya lika-liku kehidupan! 

Kalau di sekolah kita mendapatkan pelajaran baru kemudian menghadapi ujian, maka di dalam kehidupan kita akan menemui ujian-ujian baru kemudian kita akan mendapatkan pelajaran.Semakin banyak kita menerima ujian maka kita akan semakin banyak belajar. Inilah hikmah dari lika-liku kehidupan yang penuh warna. Dibalik setiap penderitaan kesakitan atau ketidaklancaran dalam bentuk apapun, selalu ada hikmah yang tersembunyi dibaliknya. Segetir dan seburuk apapun yang menimpa kita selalu ada anugerah terindah yang terselubung dibalik itu.