Senin, 10 November 2014

Bino Si Korban Banjir

Selamat siang, ciptaan Tuhan yang sempurna.

Bino (kanan). Bule (kiri)

Perkenalkan namaku Bino. Nama yang sederhana. Tetapi gak perlu dibesar-besarkan, meski aku lahir dan besar di Kota Metropolitan. Aku hanya mau berbagi kisah pada kalian tentang hidupku yang penuh pilu, sedih, menderita terlunta-lunta hidup di kota besar.

Aku gak tau Bapakku siapa. Yang aku tau, aku dibesarkan oleh Ibu yang sangat sayang sama aku. Saudara kembarku ada empat. Aku lupa nama saudara-saudara kembarku. Abis waktu kami lahir, Ibu gak pernah mengurus akta kelahiran kami ke Kantor Kelurahan.

Aku tinggal di pinggir rel kereta api Grogol. Karena gak ada Bapak yang membesarkan kami, terpaksa Ibu yang banting tulang mencari makan buat hidup kami. Ibu sering mengajak kami meminta-minta makan ke warung-warung nasi, dari Warteg hingga rumah makan Padang, menunggu ada orang yang mau berbaik hati memberi kami sisa makanannya.

Banyak orang-orang merasa kasihan terhadap kami. Tapi gak sedikit juga yang mengusir kami dari rumah makan, menendang kami ke pinggir jalan, hingga kami berpindah lagi ke rumah makan yang lainnya. Jika ada orang berbaik hati memberi kami sisa makanannya, kami melahapnya rame-rame. Dapat makan atau gak, sore hari kami kembali pulang ke pinggir rel kereta api.

Gak ada kenyamanan tinggal di kota besar seperti Jakarta. Terkadang Ibu merasa letih menyusui kami berlima. Sementara Ibu kesusahan mencari makan dan air untuk hidup kami.

Aku sangat bangga sama Ibu. Meski kesusahan mencari makan untuk kami, Ibu masih kuat dengan imannya. Ibu gak pernah melacur ke sana-sini. Aku lihat banyak orang-orang jadi pelacur di Jakarta, dengan alasan susah mencari makan. Bagiku “meminta-minta” lebih mulia daripada jadi seorang
"pelacur”.
‘Bener, gak? Bener dooong!’

Sampai aku berumur dua bulan, hampir gak ada perubahan pada nasib kami. Kami tetap terlunta-lunta hidup di Jakarta. Jika boleh memilih, aku gak ingin hidup di kota itu.

Aku mau nangis melanjutkan tulisan ini, tapi mau gimana lagi, kalian ciptaan Tuhan yang sempurna mesti tau kisahku ini.

Aku mau tanya, ‘Apa yang kalian rasakan jika terpisah dengan saudara kalian pada umur dua bulan? Apa yang kalian rasakan jika terpisah dari Ibu kalian di umur segitu?’

Musim banjir 2013, adalah hari yang paling menyedihkan buat aku. Aku dan empat saudara kembarku tidur-tiduran di pelukan Ibu. Tiba-tiba banjir besar memporak-porandakan tempat istirahat kami.

Aku terpisah dari Ibu, aku kehilangan saudar-saudara kembarku. Aku dibawa arus air ke tong sampah. Di tong sampah itu aku menangis sejadi-jadinnya. Tetapi orang-orang hanya melihat saja. Mereka gak mau membantuku. Dua hari dua malem aku tidur di sana, makan pun di sana dari sisa makan buangan orang-orang. Aku sudah pasrah dengan keadaan. Ingat Ibu ada di mana? Ingat saudara-saudaraku ada di mana? Apa mereka masih hidup? Entahlah

Ketika sore tiba, seorang wanita dan pria menghampiriku. Pria itu menggendongku menuju kontrakannya. Aku dimandiin dalam kedinginan. Aku diberi selimut tebal. Dan mereka memberiku semangkuk nasi dan ikan rebus. Aku bener-bener berterima kasih kepada mereka. Tapi aku gak tau bagaimana caranya berterima kasih.

Si pria itu memanggil si wanita dengan sebutan “Uni Uci”, si Uni Uci memanggil pria itu “Uda Doni”. Ternyata oh ternyata mereka Uda Uni.

Malem-malem aku tidur kedinginan di kontrakan Uda Doni. Gak tau kenapa, kok bisa sedingin itu? Padahal di luar kontrakan Uda Doni gak dingin-dingin banget. Paginya Uni Uci dateng ke kontrakan Uda Doni. Uni Uci memanggil aku “Bino”. Sejak itu, jadilah namaku Bino. Bagiku apalah artinya sebuah nama? Yang penting bisa makan enak.
‘Bener, gak? Bener dooong!’

Baru lima menit Uni Uci dateng, mereka berdua pergi entah ke mana? Aku ditinggal sendirian di kontrakan. Aku jadi kesepian. Eh, pas pulang mereka bawa makanan bulet-bulet gitu. Aku gak tau nama makanannya apa? Aku gak bisa baca. Yang penting bisa makan enak.
‘Bener, gak? Bener dooong!’

Aku kira cuma saat itu aja merasa kesepian. gak taunya tiap hari Uda Doni pergi ninggalin aku. Katanya sih, pergi kerja. Aku gak tau dia kerja di mana? Aku lihat di facebooknya dia kayak kerja kantoran gitu. Menjelang berangkat kerja, Uda Doni selalu cipika-cipiki sama aku. Dia sangat sayang sama aku. Anehnya, aku dibeliin kalung warna ping. Aku kan jantan, masa dikasih kalung warna ping?
‘Gak banget, deh! aku jadi malu sama kucing-kucing jalanan.’
'Upp, aku juga pernah hidup di jalan, ya? Sorrry.'

Waktu Uda Doni buru-buru pergi ke kantor, dia lupa naruh pasir tempat buang beolku. Siang-siang aku mau beol bingung mau buang ke mana? Ya… aku keluairin aja di tempat tidur dia.

Pulang kerja Uda Doni marah-marahin aku, ‘Kenapa beol di kasur? Apa gak ada tempat lain?’ Aku bingung mau jawab apa? Aku kan gak bisa ngomong.
Aku minta maaf sama Uda Doni. Aku deketin dia lagi main leptop di depan tipi. Aku tidur-tiduran di leptop dia. Aku dilihatin gambar burung-burung terbang. Lalu aku jilatin pipi Uda Doni. Dia gak tau, tadinya abis beol aku jilatin pantatku pakai lidah, ‘Hi hi hi’ makanya jangan marah-marah terus. Yang salahkan dia, kenapa aku yang dimarahin?

Memasuki umur empat bulan, aku selalu sendirian di kontrakan Uda Doni. Tiap pagi dia pergi kerja, pulangnya selalu malem-malem. Tiap pulang kerja, aku digendong-gendong ke atas kepalanya, terus berdiri di depan kaca. Aku jadi kaget… ada kucing lain mirip aku di dalam kaca. Aku cakar kucing itu, Uda Doni malah ketawa. Dia bilang, ‘Itu bukan kucing lain, Bino… itu kamu. Iya.. kamu’

Dasar Uda Doni bego. Udah jelas-jelas aku lihat sendiri ada kucing lain mirip aku.
Nah, hari minggu sore aku senang sekali. Paginya Uda Doni bilang mau jemput Uni Uci ke kosnya Uni Uci. Terus pergi jalan-jalan ke mall. Aku disuruh jagain kontrakan. Uda Doni janji mau kasih hadiah buat aku. Ternyata benar... sewaktu balik ke kontrakan, Uda Doni dan Uni Uci bawa kardus indomi. Aku kira mereka mau tuker makananku dengan indomi. Aku kan gak makan indomi. Waktu aku cium-cium kardus indominya, tiba-tiba loncat mahkluk aneh berwarna putih. Rupanya makhluk aneh itu kucing juga. Kucing itu bulunya panjang, ekornya montok, keren gitu, deeh.

Uda Doni bilang, ‘Nah, sekarang kamu ada teman, Bino. Namanya Bule.’
Aku senang sih, senang. Tapi Uni Uci itu, lho… suka banding-bandingin aku sama si Bule. Dia bilang, ‘Si Bule lebih cakep, ekornya panjang, gak kayak si Bino punya ekor cuma dua senti.’
“Sakiiiiitnya tu di sini di dalam hatiku”. Lah, kenapa jadi lagu Cita Citata, ya? Mang.. tu orang jadi artis terkenal juga, ya? Syukur, deh, kalau gitu!

Sekarang aku gak kesepian lagi. Karena ada Bule nemanin aku waktu Uda Doni pergi kerja. Si Bule sih cakep iya, tapi agak songong dikit. Aku tidur tengkurap, si bule songong itu suka tidur ngangkang seenaknya.
‘HALLOOWH.. gak sopan, deh. Aku kan senior di kontrakan Uda Doni’

Udah dulu ya, ciptaan Tuhan yang sempurna. Nanti aku lanjutin lagi cerita tentang pacarku si Mona. Aku udah punya pacar, lho. Aku kan udah gede. Meski aku kucing pribumi, aku gak kalah hebat dapetin pacar dibandingin si Bule itu. Si Mona lebih senang sama aku. Aku udah bobok berduaan sama si Mona. Tapi Uda Doni sama si Bule, gitu-gitu aja. Ihik ihik ihik kasian.

Aku tutup dulu komputernya, ya. aku mau bobok siang. Bentar lagi Uda Doni pulang keja. Nanti dia marah-marah komputernya aku acak-acak.
Da da da da


Salam dari: Bino Bin Bapak Gak Jelas.