Senin, 10 November 2014

Pemuda Kampung Yang Tak Mengerti Ulang Tahun

Sering aku bertanya sendiri, 'Apa sesungguhnya arti ucapan selamat ulang tahun?'

Sebelum pukul 12 malam kemarin, aku coba bertafakur, merenungkan, karena seumur-umur aku tidak pernah merasakan bagaimana meriahnya sebuah pesta ulang tahun? Dan Bagaimana rasanya meniup lilin yang dikelilingi orang-orang tercinta?

Aku hanya seorang pria yang dibesarkan di sebuah desa terpencil. Desa yang penuh dengan hijau hamparan sawah. Desa yang tidak masuk dalam daftar peta dunia (Kubu Anau, Agam- Sumatera Barat).

Kecerian masa kecil anak-anak kota, adalah bermain dengan keluarga ke tempat hiburan. Sementara keceriaan masa kecilku hanya mandi bersama-sama teman di tepi sungai Batang Agam, sambil menunggu senja tiba untuk kembali membawa sapi-sapi gembalaanku pulang ke kandangnya.

Dari masa itu sampai sekarang, aku tidak pernah mengerti apa istimewanya pesta ulang tahun?

Garis tangan telah membawaku merantau ke Jakarta. Coba membangkitkan batang yang sudah lama terendam. Dari tukang cuci piring di rumah makan Padang, tertatih-tatih melamar kerjaan dengan motor butut pinjaman saudara, hingga bisa jadi Manager di salah satu perusahaan swasta.
Dari tak mengerti dunia bisnis sampai jatuh bangun dibidang itu. Dari mengenal orang-orang yang hidup di bawah jembatan, hingga bersahabat dengan orang-orang elit di gedung mencakar langit. Dan kembali lagi terombang ambing dengan pasang surut kehidupan.

Tapi tetap saja aku tidak mengerti, “apa istimewanya ucapan selamat ulang tahun?”

Saat renunganku terisi dengan bermacam pertanyaan, Bino, kucing peliaraanku tidur di pelukannku. Sepertinya dia mau mengucapkan sesuatu untukku. Menyusul tepat jam 12 malam salah satu teman di akun facebookku, Sakti Siwa mengirim stiker HAPPY BIRTHDAY ke inbox.
Lalu aku tertidur, terbangun, kulihat Nia Corby menulis “Selamat Ulang Tahun, Bang”

Dan aku mencatat ucapan selamat dari teman-teman yang lain:
Atmoro Atmoro , “Otanjoubi Omedetou gozaimasu.”

Ratna PermataSari, “Selamat Ulang tahun, Sensei. Semoga panjang umur, Barokah, sukses, dan cepat merid."

Linda Happy Angrieni, “HBD ya Doni. Panjang umur dan sehat selalu. Semoga sukses selalu dan rezeki semakin dilancarkan, jodoh cepat dipertemukan. AMIN.”

Herman Cie Unyiel, "Doni Romiza# selamat ulang tahun. Semoga panjang umur dan diberi kekuatan iman dan takwa."

Airin Rinda Deswita, seorang teman yang ngakunya imoet-imoet, “Eiiitss ada yang berulang tahun ni, ya? Selamat berkurang lagi umurnya Pak Doni, hihihi.”

Tak lupa ucapan selamat dari orang yang sangat aku cintai SMP, “Selamat ulang tahun, Uda. Apapun yang terjadi, semoga harapan dan impian kita dikabulkan oleh Allah. Amin.

Tak biasanya, Mak dari kampung menelponku pagi-pagi, ‘Yung, apa kabar, Nak? Kenapa ya… Mak jadi rindu sama kamu hari ini. Kamu kapan pulang, Nak?”

Di sana aku meneteskan air mata. Walau Mak tidak mengucapkan selamat ulang tahun, walau Mak juga tidak mengerti apa itu pesta ulang tahun? Tapi aku merasakan kontak bathin seorang Ibu yang tidak bisa dipisahkan dari anaknya. Kontak Bathin telah mengingatkan seorang Ibu yang telah melahirkan aku di hari ini, “10 NOVEMBER.”
Insya Allah, aku akan pulang, Mak.

Terima kasih buat teman-teman yang selalu perhatian kepadaku. Semoga Tuhan senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kalian semua. AMIN